Selasa, 15 Mei 2012

Sejarah kabupaten sanghie talaud

 I. Asal-Usul Penduduk Sangihe Talaud (versi Buku Suendumang)

 

Bila ditelusuri dari asal-usul keturunannya atau yang disebut silsilah, maka nenek moyang penduduk daerah Sangihe Talaud semuanya berasal dari tempat lain yang datang melalui lautan, lalu menetap di daerah tersebut, mereka adalah:
  1. Ras Apapuang (yang paling awal), konon ceritanya berasal dari Bangsa Negrito;
  2. Ras yang berasal dari Saranggani, Mindanao Selatan;
  3. Ras dari daratan Merano, Mondanao Tengah;
  4. Ras dari Kepl. Sulu (sebagian kecil adalah raksasa);
  5. Ras dari Kedatuan Bowentehu + Manado Tua, dimana ras ini berasal dari Molibagu (Bolangitam).

Dari kelima ras diatas, hanya ras no. 1 dan no. 5 yang suka perdamaian, sedang ras no. 2, 3 dan 4 termasuk ras yang gemar berperang. Namun demikian sesuai keyakinan, mereka enggan memulai tapi bersifat menunggu, nanti membalas serangan yang datang dari lautan, utamanya musuh bubuyutan dari bajak-bajak laut dari Kepl. Sulu.
Selain itu para leluhur, suka hidup bertolong-tolongan (métawang/makitawang), suka bekerja gotong-royong (métatondong munara), patuh pada perintah pimpinan asalkan jangan ditekan, gemar berdendang sementara berperahu (mésambo), berdendang sambil mencukur kelapa untuk dibuat minyak kelapa (mékalumpang), berdendang sambil menuai kebun padi ladang dan gemar sekali minum tuak atau saguer.
Jika terjadi pertikaian berdarah antara penduduk di daerah pada waktu itu, hal itu kebanyakan dipicu oleh pembalasan dendam atau menuntut bela. Contohnya
  1. Datuk Makaampo-Bawengehé sebelum jadi raja/datu di Kedatuan Tawukang-Dimpulaeng, kira-kira tahun 1520 pergi menyerang penduduk pulau-pulua Nanusa, karena orang-orang pulau Nanusa-Talaud, menangkap dan membunuh Tangkuliwutang (ayahnya), yang sementara memancing di sekitar Rainis, karena Naboisan ibu Makaampo dengan Panurat adiknya berdiam di Rainis.
    1. Pertikaian berdarah antara kerajaan Tahuna dengan kerajaan Manganitu yang dimulai tahun 1645, merupakan sengketa batas kerajaan.
      Buntuang raja Tahuna ke-2 memindahkan kubunya dari Bukide ke gunung Séhengbalira, padahal Séhengbalira waktu itu adalah wilayah Manganitu.
      Tolo pendiri kedatuan Manganitu gugur karena dikhianati oleh Alahungbeli (budak raja Tolo sendiri), yang jadi kaki tangan raja Tahuna. Sedangkan dari kerajaan Tahuna, Hulubalang Pulungtumbagé dapat dikecoh oleh pendekar Lantemona, lalu jatuh tenggelam dalam rawa yang dalam, sampai rambutnya tidak nampak dari permukaan rawa Manganitu, yang sampai sekarang disebut Bonohangsaghu.

II. Latar Belakang Sejarah Daerah Sangihe Talaude (versi Suendumang)

 

Sebelum digabung, daerah ini terdiri dari dua gugusan kepulauan, yaitu: Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaude.Yang disebut Kepulauan Sangihe meliputi Pulau Taghulandang dengan pulau-pulau kecil disekelilingnya; Pulau Siau dengan pulau-pulau kecil disekelilingnya dan Pulau Sangihe Besar dengan pulau-pulau kecil disekelilingnya.
Sedangkan yang disebut dengan Kepuluan Talaude ialah: Pulau Karakelang, Pulau Salibabu, Pulau Kabaruan dan Pulau-Pulau Nunusa termasuk Pulau Miangas.
Pemerintahan pada dua gugusan kepulauan ini sebelm penjajahan adalah sebagai berikut:
Di Kepulauan Sangihe, pada akhir abad ke-XVII, pemerintahan berhubungan dengan Kesultanan Ternate, tapi sebelum waktu itu adalah pemerintahan yang merdeka.
Sedangkan Kepulauan Talaude berhubungan dengan Kerajaan Mojopahit.  Hal ini terlihat dalam syair Prapanca pada Kitab Negarakartagama pada Zaman Gajahmada (th. 1364), bahwa Talaud didalam syair bahasa Jawa tersebut disebut sebagai Udamakatrayadhi atau Udamakatraya. (buku Mr. M. Yamin yang berjudul Gajahmada Pahlawan Persatuan Nusantara, hal. 48-50).
Penggabungan dua gugusan kepulauan ini, yaitu Kepl. Sangihe dan Kepl. Talaude sehingga menjadi Sangihe Talaude nanti terjadi pada abad ke XVIII, setelah Kepl. Talaude tahun 1779 ditemukan oleh bangsa Belanda dan secara resmi disebut Daerah / Kepulauan Sangihe-Talaud.
Derah Sangihe Talaud dimasukkan ke dalam keresidenan Manado, nanti pada tahun 1825, yaitu setelah seluruh kepulauan ini dilepaskan dari Kesultanan Ternate, sehingga dengan keadaan ini maka penetapan raja-raja mulai tahun 1825 sudah bukan lagi di Ternate, melainkan di Manado.


sumber : http://sitaro.wordpress.com

 

0 komentar

Posting Komentar