Jumat, 02 November 2012

Marilah Lestarikan Lagu Khas Bolaang Mongondow yang Hampir Punah



Sama seperti daerah lain di Indonesia, Bolaang Mongondow juga mengenal jenis-jenis kesenian sejak dahulu kala. Beberapa diantaranya adalah, seni musik vokal dan instrumental, seni tari, seni sastra, seni rupa. sayangnya, generasi Bolaang Mongondow, sudah mulai hilang dan kadang terdengar.


Seni musik vokal diantaranya Odenon yakni dinyanyikan pada waktu sedang memetik padi (mokoyut), biasanya oleh kaum wanita untuk menghilangkan rasa penat saat bekerja. Odenon juga biasa dinyanyikan sebagai salah satu lagu pada acara aimbu atau pada acara-acara gembira lainnya. Contoh odenon, layugdon iko Tansibi', alai odenon (terbanglah hai burung pisok), alai odenon. Bo lumayug tumonsi-tonsi' (terbang mengedar-edar), Yo pantowai im baloi limagi' (tinjaulah rumah sebelah sini), sing kon tua ing ki mamai adi' (karena disana si jantung hati).

Isi sastranya bersajak dinyanyikan secara solo, lalu disambut oleh orang lain bersama-sama yang merupakan refreinnya, yaitu  alai odenon, yang dapat berarti ber-odenon-lah bersama-sama. Lagu odenon ini dinyanyikan secara sahut menyahut berbalas-balasan. 

Totampit
dinyanyikan oleh orang-orang tua masa lampau untuk mengisahkan tentang perjalanan mereka pada saat pergi ke rantau memasak garam (modapug) atau ketika mereka masuk hutan mencari damar (monalong) dan sebagainya, contoh: Kadok-kadok i Nuangan (burung hutan di Nuangan, motundu’ dalam pongayow (menuntut perjalanan panglima, Kiditoin libuton potoboyan (buihlah tempat pulau laga’, bura’ dongkain pobotoyan (buihlah tempat mendayung).

Bondit biasanya dinyanyikan oleh seorang bolian, yaitu seseorang yang dalam keadaan intrans (kesurupan), dalam acara pengobatan tradisional. Dapat juga dinyanyikan pada acara mogaimbu misalnya dalam aimbu ponondeagaan (inisiasi). Contoh:  Ki landangon I molandang (teruna lincah yang perkasa), Akuoi ing kon tudu ambang (aku di puncak ambang), Abitku ing kede' ing gayang (senjataku pedang kecil), Nokodongog noko ningal (mendengar dan dapat berita), Nokodongog noko ningal (mendengar dan dapat berita), Kon oyu-oyut ing gimbal (sayup bunyi gendang), Inonag bo inontongan (kuturun lalu melihat), Na'anta boki' im bulan (ternyata putri bulan).
Tolibag  lagu gembira, biasanya dinyanyikan dalam acara suka cita antara muda mudi atau pada waktu seseorang sedang menari joke' yang diselubungi selendang oleh para gadis. 

Dapat dinyatakan berbalasan. Dapat pula berarti lagu pujian atau pujaan. Contoh: Koina dolo-dolomea (tadi ketika pagi), Limitu' mako ko na'a (sedang duduk ditempat ini), Kinotaliban im paloma (lewatlah seekor merpati), Bai'ku maya'I onda (putriku kemana pergi), Nogilambung in sutara (memakai baju sutra), (berselubung kain kasa), Simindog mako ko ngara (berdiri di depan pintu), Nokogagar kong gina (hatiku tergila-gila).
Dondong: lagu gembira antara muda mudi. Ada juga yang menyanyikan waktu menidurkan anak. Contoh: Burowdon sindulak bangka' (baliklah perahu tumpangan), A baya'an kon Bintauna' (akan pergi ke Binatuna), Naanta kom bubu' im buta' (ternyata didalam tanah), A burowon dia'bi' maya' (diputar tidak berjalan). 


Yungkagi : dinyanyikan dengan suara sayup karena sedih mengenang seseorang yang dirindukan. Contoh: Akuoi ing koina subu (aku diwaktu subuh), Dinapatmai im pongoibu (hatiku sangat terharu), Polat nolabu'I lua'ku (berlinang air mataku), Nokotanob ko inimu (merindukan kau seorang).


Dete-dete, lagu yang dinyanyikan pada kematian seorang raja. Contoh: Langit lumogod lumentang (langit guruh gemuruh), Sinumobang I utuan (turunlah dari kayangan), Takin ende-endeawan (disertai hujan panas), Kinogapangan I mobangkang (karena kematian yang dipertuan).
Dende' lagu yang menyenangkan hati raja yang sedang bersantap. Contoh: Dika basi'dolandangon (jangan hanya dianggap gampang), Sin dau'tonga'ropakon (karena kayu besar hanya dipatahkan), Dika bsai'lolibogon (jangan hanya main-main), Minangain tonga'lampangon (muara sungai hanya dilangkahi).
Tantak, dinyanyikan pada akhir pelaksanaan suatu acara do'a tertentu untuk menanyakan kepada Ompu Duata apakah ada yang kurang tertib dalam pelaksanaan acara itu, agar terhindar dari sesuatu petaka.

Buyak, dinyanyikan dalam acara aimbu pada pengobatan tradisional monayuk. Biasanya dinyanyikan jauh malam menjelang pagi.
Lolibag, biasanya dinyanyikan sesudah totampit dalam acara aimbu oleh orang-orang tua masa lampau.


Ondo-ondo, sama dengan dende' yang dinyanyikan pada saat raja sedang bersantap. Juga dinyanyikan pada saat menjemput raja yang baru kembali dari perjalanan.


Tangkil, lagu dalam rangkaian lagu-lagu aimbu yang mengandung kiasan atau teka-teki.


Pantung, dilagukan sambil memetik gambus. Pantung termasuk lagu yang berasal dari daerah Melayu yang telah merakyat sehingga tidak terasa bahwa lagu tersebut berasal dari luar daerah. Dilagukan pada acara-acara gembira, biasanya dihadiri muda-mudi sampai semalam suntuk. Banyak mengandung kias bahkan yang lucu sehingga sangat menarik. Bagian akhir pantun yang disebut hayun, misalnya, Laka ule im Bolai (lihatlah di Kera), Moka’an kon toigu (sedang makan jagung), Laka ule im Bobai (lihatlah wanita), Mo ibog ko inimu (suka kepadamu)

2 komentar

Anonim

mantap.. apakah ada rekaman lagu rakyat dari bolaang mongondow yang masih dilestarikan sampai saat ini?

Unknown 23 Feb 2016, 05.28.00
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Posting Komentar