Senin, 28 Januari 2013

Harapan Pelajar Untuk Kotamobagu Mendatang

Harapan, harapan dan harapan, itulah yang selalu menjadi angan-angan terindah kami.
Kotamobagu, yaitu kota indah nan bersih yang terdapat di Sulawesi utara .
Harapan untuk sama-sama membesarkan tempat tinggal kita ini, selalu menjadi impian kita bersama para pelajar-pelajar yang lain . Mungkin kami hanya bisa memperkenalkan kotamobagu lewat dunia maya saja , tapi saya yakin suatu saat nanti para pelajar-pelajar  akan membangun kotamobagu bersama-sama .Sekarang, bagaimana kita dapat mewujudkan itu semua ?
 ya, itu semua dapat terjadi apabila kita menjalin kerjasama yang baik.Mungkin sekarang ini SDM kita masih kurang dibanding kota-kota maju lainya di indonesia, sehingga kita masih  melakukan hal-hal yang  bersifat  jadul.
   Jika saja Kota Solo membuat mobil SMK, kenapa kita tidak membuat motor SMK atau  lainya yang membuat kota kita  di kenal.Sebenarnya  semua mudah saja direalisasikan, tapi kita saja yang masih tetap diam dengan segala pemikiran terdahulu kita. Banyak program yg di susun pemerintah yang sangat efektif untuk kemajuan kita bersama, tetapi masih banyak  yang tidak ingin program-program itu terealisasi. Saya pernah berbincang dengan teman saya, katanya kota kalian kalo diliat dari atas pasti bakalan tidak tersusun rapi,seperti tinitu'an yang  tercampur aduk dalam hal penatata a kotanya.
   Kami para pelajar berharap kotamobagu ke depan lebih baik lagi dengan pemimpin-pemimpian yang baru.Kami tidak hanya ingin mendengar visi dan misi, kami hanya perlu  bukti bukanlah janji . Janganlah sampai para pemuda asli kita  mencari sesuap nasi diluar daerah karena ketidak tersediaan lapangan kerja di kotanya. Pada Pemilihan Walikota mendatang kami berharap ada program-program dari calon-calon pemimpin  baru tentang kehidupan para pelajar mendatang, kami bukanlah anak-anak yang ingin memahami banyak tentang politik, karena kami hanyalah seorang pelajar yang kerjanya hanya untuk belajar .

Kamis, 15 November 2012

Mari sama-sama Kita lestarikan Bahasa Mongondow yang hampir punah

 Seni dan  budaya di Sulawesi utara waktu demi waktu seakan mulai pudar .Pemuda yang seharusnya berperan penting dalam melestarikan budaya-budaya yang ada , kini sudah tidak lagi pernah memikiran aspek-aspek tersebut .Kita tau bersama dengan masuknya globalisasi di Indonesia khususnya di provinsi sulawesi utara banyak , hal-hal penting yang seharusnya menjadi ciri khas kita , kini telah hilang,karena pengaruh budaya barat yang merambat melalui media-media komunikasi yang ada.Kami anak-anak dari Kotamobagu merasa bangga dengan adanya Senibudayakita salah satu Organisasi di sulawesi utara yang turut melestarikan budaya-budaya yang ada.
Salah satu Budaya kita yang hampir punah sekarang ini yaitu bahasa daerah .Saya jadi ingat dengan artikel di situs VOA berjudul Jarang Digunakan, Ratusan Bahasa Daerah di Indonesia Terancam Punah” yang berisi kekhawatiran akan punahnya bahasa daerah di Indonesia, lantaran jarang digunakan. Kepala Bidang Peningkatan dan Pengendalian Bahasa Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, Sugiyono dalam tulisanya itu memperkirakan di penghujung abad 21, jumlah bahasa daerah akan menyusut, yang semula 746 bahasa daerah, menjadi hanya 75 bahasa daerah saja. Jadi torang skarang musti bilang WAW! Kalau ini benar, maka kondisinya sudah SOS Dong .
Banyak yang bilang, salah satu penyebab makin tidak populernya bahasa daerah adalah alasan urbanisasi dan perkawinan antar etnis.Mereka yang menikah dengan etnis lain dan pindah ke kota, punya kecenderungan bakal meninggalkan bahasa daerahnya dan lebih memilih bahasa Indonesia sebagai alat komunikasinya.Contoh saja ,di kampung Mongondow , yang sebenarnya merupakan ciri khas kabupaten bolaang mongondow , kini sudah jarang yang menggunakan bahasa mongondow , di karenakan banyak wanita di kampung tersebut kawin dengan etnis yang berbeda.
Saya sendiri tidak anti perkawinan antar etnis.Justru perkawinan antar etnis menurut saya perlu untuk meningkatkan keberagaman dan pemahaman antar etnis yang di beberapa daerah masih rendah.Namun harusnya perkawinan antar etnis itu tidak mematikan keberadaan bahasa daerah itu sendiri.Harusnya kedua pihak yang menikah justru menyuburkan pemakaian bahasa daerah pada anak-anak mereka.
Coba Kita bayangkan, alangkah indahnya jika sebuah keluarga yang merupakan hasil perkawinan antara etnis Minahasa dan Mongondow yang mengajarkan kedua bahasa daerah pada anak-anaknya . Anak-anak akan punya ketrampilan berbahasa yang lebih kaya. Tidak hanya satu bahasa Indonesia, namun juga bahasa ayah dan ibunya.
Lalu bagaimana agar bahasa daerah tetap lestari dan digunakan di Provinsi kita ini ? Peran seorang ibu sangat jelas dalam mengajarkan ketrampilan berbahasa.Tak usah mencari contoh jauh-jauh, saya sendiri bisa dan mengerti bahasa mongondow karena ibu saya kerap mengajak bercakap dalam bahasa mongondow sejak kecil,  “uyo' aidon nongaan iko”  itu menjadi bahasa sapaan saya setiap pagi mau sekolah yang artinya Anaku sudah makan kamu. Dan itu hanya dilakukan dalam lingkup rumah saja.Jika bertemu dengan orang dari etnis lain, kita selalu menggunakan bahasa manado, yakni bahasa yang mirip-mirip dengan bahasa indonesia sebagai jembatan komunikasi.

Saya dan teman-teman sempat berpikir,apa yang  menyebabkan sampai Banyak anak-anak muda sekarang khusunya di kota kotamobagu banyak yang tidak bisa menggunakan Bahasa Daerah mereka sendiri .Kami sempat menanyakan pada beberapa siswa di  Sekolah ,tentang apa yang membuat banyak kalangan pemuda  pemudi sudah tidak menggunakan Torang Pe Bahasa ini . Dari  68 orang yang Kami tanyakan , 60%  menjawab “Karena Masih banyak kosa kata yang Kami tidak ketahui dan tidak adanya sarana yang bisa kita pakai untuk mencari arti  dari kata-kata bahasa indonesia untuk dirubah ke Bahasa mongondow ”, itu jawaban dari banyak orang yang kami tanyakan.

Memang benar kata mereka Kamus Bahasa Indonesia – Mongondow sekarang sudah jarang ditemukan, jikapun ada hanya disekolah-sekolah saja. Lalu Kami sempat mendiskusikan hal tersebut dengan guru seni kami dan beliau meminjamkan 1 buah kamus Bahasa Indonesia – Bahasa Mongondow kepada Kami. Berbekal kamus tersebut saya dan teman-teman sekelas saya di bidang  TKJ (Teknologi komputer dan  jaringan) berunding tentang Ide yang dapat kita  kembangkan dengan 1 buah kamus ini,   agar dapat membantu semua orang khususnya anak muda untuk mengartitkan Bahasa Indonesia  kebahasa Mongondow. Saya sempat berpikir tidak mungkin satu buah kamus itu kita photo copy lalu disebar luaskan, apa lagi kondisi kita sekarang masih siswa dan satu kamus iu tebalnya sampai 5 cm , waduh bisa repot dong.
Setelah kami berunding kami mendapat kesimpulan bahwa , dengan kemajuan teknologi sekarang ditambah juga  teknologi smartphone  dan internet sudah mulai banyak digunakan, maka kami mendapat ide untuk membuat Applikasi kamus berbasis berbasis Web. Saat ini kami baru menyelesaikan kamus online berbasis web yang kami selesaikan dalam waktu 2 minggu, itupun masih di upload dihosting gratisan dimana masih menggunakan domain gratisan .Wajar saja kami anak sekolahan, membeli satu domain saja belum punya uang. Kemarin saja baru kena'  suspend  dari pihak hostingan, katanya  applikasi kami memberatkan kinerja server karena realtime akses dari public ( wajar gratisan jadi bandwith limited), jadi kami pindah ke hostingan gratisan yang lain lagi deh.


Untuk yang berbasis web kalian bisa mengaksesnya lewat site ini http://wwww.mongondow.tk Agak mirip-mirip seidikit dengan google translate ;). Kami sangat mengharapkan kerja sama dari kawan-kawan untuk menyebarkan Appliksi online ini ,agar bisa bermafaat, Klo ada donatornya juga itu lebih baik , hehehe.

Kiapa torang nda’ momulai dari skarang? Jika torang pebahasa daerah yang beragam ini punah , khususnya bahasa mongondow ini,  yang rugikan torang sandiri. Provinsi yang indah dari keberagaman suku, budaya dan bahasa ini akan hilang keunikannya,jika salah satu bahasa daerah jo menghilang dari Bumi nyiur Melambai ini. Setuju saja bila bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan, tapi jangan pernah lupakan akar budaya kita masing-masing dan Banggalah dengan bahasa daerah kita masing-masing, karena dengan itu ke-Indonesiaan kita akan semakin tampak.



Sabtu, 03 November 2012

Ciri Khas Dalam Rumah Panggung Adat Minahasa

Rumah Kayu Minahasa - Indonesia mempunyai sumber kayu yang sangat melimpah, tak hayal pada zaman dahulu kala banyak rumah yang dibangun berbahan kayu, salah satu adalah rumah kayu minahasa. Rumah kayu Minahasa yang dikenal dengan sebutan Wale atau Bale.

Ciri khas yang paling menonjol dari rumah kayu minahasa ini adalah Rumah Panggung dengan 16 sampai 18 tiang penyangga. Pada zaman dahulu ada rumah tradisional keluarga besar yang dihuni oleh enam sampai sembilan keluarga. Masing-masing keluarga merupakan rumah tangga tersendiri dan mempunyai dapur atau mengurus ekonomi rumah tangga sendiri.

Namun Kini, jarang dijumpai  rumah kayu minahasa dengan adat ini. Secara garis besar rangakaian rumah kayu minahasa ini terdiri atas emperan (setup), ruang tamu (leloangan), ruang tengah (pores) dan kamar-kamar. Ruang paling depan (setup) berfungsi untuk menerima tamu terutama bila diadakan upacara keluarga, juga tempat makan tamu.

Disamping itu, pada bagian belakang rumah terdapat balai-balai yang berfungsi sebagai tempat menaruh  alat dapur dan alat makan, serta tempat mencuci. Di sisi atas rumah atau loteng (soldor) yang berguna sebagai tempat menyimpan hasil panen seperti jagung, padi dan hasil lainnya. Di bagian bawah rumah (kolong) biasanya digunakan untuk gudang tempat menyimpan papan, balok, kayu, alat pertanian, gerobak dan hewan peliharaan.

Yang unik adalah, rumah kayu di warga di Minahasa tidak beratapkan genteng. Karena folosofi yang dianut adalah tak baik jika hidup di bawah tanah (genteng terbuat dari tanah). Rata-rata rumah mereka beratapkan seng, daun, atau elemen besi lainnya. Mereka beranggapan hanya orang meninggal saja yang bertempat tinggal di bawah tanah. Sekali pun ada yang beratapkan genteng, umumnya rumah tersebut milik kaum pendatang. Meskipun demikian, banyak juga rumah orang Minahasa yang beratapkan seng namun didesain seperti genteng.

Sumber: http://www.rumahkayumanado.com

Tradisi Memindahkan Rumah di Minahasa

Di Kota Manado sampai pada sekitar tahun 1970 an pernah ada suatu tradisi, yakni tradisi memindahkan rumah secara bersama-sama. Namun saat sekarang ini tradisi tersebut telah hilang. Akan tetapi di Kota Amurang Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) Provinsi Sulawesi Utara, sekitar 80 Km dari Kota Manado, tradisi memindahkan rumah masih di pertahankan.


Foto ini menggambarkan tentang suatu tradisi dari masyarakat Minahasa, khususnya masyarakat di Minahasa Selatan tepatnya di Kelurahan Bitung Kota Amurang, yakni suatu tradisi memindahkan rumah (rumah panggung, rumah pitate, dan rumah bulu).

Tradisi memindahkan rumah, oleh masyarakat Minahasa dikenal dengan sebutan Merawale. Rumah yang dipindahkan itu tanpa harus dibongkar, namun secara utuh digotong secara bersama-sama. Tradisi ini telah turun temurun dilakukan oleh masyarakat Minahasa.

Kebersamaan dalam kehidupan sosial di Minahasa, salah satunya diwujudkan dengan tradisi merawale. Baik anak-anak, remaja, pemuda maupun orang tua terlibat dalam tradisi ini tanpa memandangstatus sosial.

Merawale biasanya dikomandoi oleh seseorang yang dituakan dan dianggap berpengalaman agarrumah yang akan dipindahkan dapat diangkat secara lebih mudah.

Merawale juga adalah simbol kepolosan dan rasa kebersamaan masyarakat tanpa rekayasadalam kehidupan sosial di Minahasa. Siapa saja yang terlibat dalam merawale tidak dibayar dengan uang, akan tetapi hanya mendapat ucapanterima kasih dari yang empunya rumah.

Salah satu bentuk ucapanterima kasih diwujudkan dengan diberikan sajian minuman seperti teh manis, kopi, dan air putih; rokok, atau kue seperti kue cucur, onde-onde dan nasi jaha. (Oleh : N. Raymond Frans),-

sumber :  http://rafansdetik.blogdetik.com

Tarian Cakalele Minahasa, Tradisi Perang Leluhur

 - Tari Cakalele ternyata tidak dimiliki oleh masyarakat Ambonsaja, suku Minahasa ternyata juga memiliki budaya tarian perang itu. Tentunya, dengan gaya gerakan dan pakaian yang memiliki khas tersendiri.

Bentuk pakaiannya, dengan menggunakan dasar kain karung goni. Kemudian di seluruh permukaannya dihiasi rumbai-rumbai kain berwarna merah dengan panjang hingga di bawah lutut. Pada kaki, pada bagian betis, dibebat dengan bahan yang sama. Sebagai alas kaki, penari mengenakan sandal khusus yang juga terbuat dari karung goni.

Paling menarik adalah mahkota yang mereka pakai. Berbentuk kepala burung, dengan moncong lancip berwarna kuning. Kemudian di atasnya bulu-bulu yang berasal dari bulu ekor dan sayap ayam jantan. Tapi itu untuk penari bagian prajurit. Sedangkan bagi sang pemimpin, mahkotanya menggunakan bulu dan sayap dari burung elang. “Ini sebagai simbol dari kekuatan sang pemimpin. Termasuk kalung tiga tengkorak yang saya pakai ini,” jelas Odi, penari yang mendapat bagian sebagai pemimpin.

Tiga tengkorak yang bergerai di leher Odi itu merupakan tulang tengkorak dari monyet. Masih menurut Odi, seharusnya tengkorak yang dipakai adalah tengkorak manusia. Tapi zaman sekarang siapa yang mau menyediakan dan menggunakan tengkorak manusia hanya sekadar untuk menari. “Jadi para pemimpin adat Minahasa sepakat menggantinya dengan tengkorak monyet ini,” tandas Odi.

Tak hanya itu, untuk prajurit, mereka dilengkapi dengan tameng kayu dan tombak. Sedangkan pemimpinnya cukup dengan tombak. Kemudian gerakan tarian mereka, terbagi menjadi beberapa bagian. Mulai dari persiapan, maju berhadap-hadapan, hingga saling serang. Kemudian diakhiri dengan saling mundur. Uniknya, sebelum dan sesudah menari, mereka lebih dulu saling memberi penghormatan.

Sebagai iringan, tarian ini cukup menggunakan alat musik sederhana. Sebuah drum kecil yang dipukul bertalu-talu dan berhenti sejenak, setiap sang pemimpin meneriakkan komando.

Menari Cakalele itu sendiri bagi Odi dan rekan-rekannya sudah menjadi pekerjaan. Mereka tergabung dalam sanggar kesenian yang ada di Tondano Timur dan selalu berlaga di depan wisatawan yang datang ke Danau Tondano. “Kalau sedang tak ada wisatawan dan tidak menari, kami biasanya bekerja di ladang atau sawah,” ungkap Deran, salah satu penari lain yang menari sebagai prajurit.

sumber : http://www.uplik.Com

Jumat, 02 November 2012

Marilah Lestarikan Lagu Khas Bolaang Mongondow yang Hampir Punah



Sama seperti daerah lain di Indonesia, Bolaang Mongondow juga mengenal jenis-jenis kesenian sejak dahulu kala. Beberapa diantaranya adalah, seni musik vokal dan instrumental, seni tari, seni sastra, seni rupa. sayangnya, generasi Bolaang Mongondow, sudah mulai hilang dan kadang terdengar.


Seni musik vokal diantaranya Odenon yakni dinyanyikan pada waktu sedang memetik padi (mokoyut), biasanya oleh kaum wanita untuk menghilangkan rasa penat saat bekerja. Odenon juga biasa dinyanyikan sebagai salah satu lagu pada acara aimbu atau pada acara-acara gembira lainnya. Contoh odenon, layugdon iko Tansibi', alai odenon (terbanglah hai burung pisok), alai odenon. Bo lumayug tumonsi-tonsi' (terbang mengedar-edar), Yo pantowai im baloi limagi' (tinjaulah rumah sebelah sini), sing kon tua ing ki mamai adi' (karena disana si jantung hati).

Isi sastranya bersajak dinyanyikan secara solo, lalu disambut oleh orang lain bersama-sama yang merupakan refreinnya, yaitu  alai odenon, yang dapat berarti ber-odenon-lah bersama-sama. Lagu odenon ini dinyanyikan secara sahut menyahut berbalas-balasan. 

Totampit
dinyanyikan oleh orang-orang tua masa lampau untuk mengisahkan tentang perjalanan mereka pada saat pergi ke rantau memasak garam (modapug) atau ketika mereka masuk hutan mencari damar (monalong) dan sebagainya, contoh: Kadok-kadok i Nuangan (burung hutan di Nuangan, motundu’ dalam pongayow (menuntut perjalanan panglima, Kiditoin libuton potoboyan (buihlah tempat pulau laga’, bura’ dongkain pobotoyan (buihlah tempat mendayung).

Bondit biasanya dinyanyikan oleh seorang bolian, yaitu seseorang yang dalam keadaan intrans (kesurupan), dalam acara pengobatan tradisional. Dapat juga dinyanyikan pada acara mogaimbu misalnya dalam aimbu ponondeagaan (inisiasi). Contoh:  Ki landangon I molandang (teruna lincah yang perkasa), Akuoi ing kon tudu ambang (aku di puncak ambang), Abitku ing kede' ing gayang (senjataku pedang kecil), Nokodongog noko ningal (mendengar dan dapat berita), Nokodongog noko ningal (mendengar dan dapat berita), Kon oyu-oyut ing gimbal (sayup bunyi gendang), Inonag bo inontongan (kuturun lalu melihat), Na'anta boki' im bulan (ternyata putri bulan).
Tolibag  lagu gembira, biasanya dinyanyikan dalam acara suka cita antara muda mudi atau pada waktu seseorang sedang menari joke' yang diselubungi selendang oleh para gadis. 

Dapat dinyatakan berbalasan. Dapat pula berarti lagu pujian atau pujaan. Contoh: Koina dolo-dolomea (tadi ketika pagi), Limitu' mako ko na'a (sedang duduk ditempat ini), Kinotaliban im paloma (lewatlah seekor merpati), Bai'ku maya'I onda (putriku kemana pergi), Nogilambung in sutara (memakai baju sutra), (berselubung kain kasa), Simindog mako ko ngara (berdiri di depan pintu), Nokogagar kong gina (hatiku tergila-gila).
Dondong: lagu gembira antara muda mudi. Ada juga yang menyanyikan waktu menidurkan anak. Contoh: Burowdon sindulak bangka' (baliklah perahu tumpangan), A baya'an kon Bintauna' (akan pergi ke Binatuna), Naanta kom bubu' im buta' (ternyata didalam tanah), A burowon dia'bi' maya' (diputar tidak berjalan). 


Yungkagi : dinyanyikan dengan suara sayup karena sedih mengenang seseorang yang dirindukan. Contoh: Akuoi ing koina subu (aku diwaktu subuh), Dinapatmai im pongoibu (hatiku sangat terharu), Polat nolabu'I lua'ku (berlinang air mataku), Nokotanob ko inimu (merindukan kau seorang).


Dete-dete, lagu yang dinyanyikan pada kematian seorang raja. Contoh: Langit lumogod lumentang (langit guruh gemuruh), Sinumobang I utuan (turunlah dari kayangan), Takin ende-endeawan (disertai hujan panas), Kinogapangan I mobangkang (karena kematian yang dipertuan).
Dende' lagu yang menyenangkan hati raja yang sedang bersantap. Contoh: Dika basi'dolandangon (jangan hanya dianggap gampang), Sin dau'tonga'ropakon (karena kayu besar hanya dipatahkan), Dika bsai'lolibogon (jangan hanya main-main), Minangain tonga'lampangon (muara sungai hanya dilangkahi).
Tantak, dinyanyikan pada akhir pelaksanaan suatu acara do'a tertentu untuk menanyakan kepada Ompu Duata apakah ada yang kurang tertib dalam pelaksanaan acara itu, agar terhindar dari sesuatu petaka.

Buyak, dinyanyikan dalam acara aimbu pada pengobatan tradisional monayuk. Biasanya dinyanyikan jauh malam menjelang pagi.
Lolibag, biasanya dinyanyikan sesudah totampit dalam acara aimbu oleh orang-orang tua masa lampau.


Ondo-ondo, sama dengan dende' yang dinyanyikan pada saat raja sedang bersantap. Juga dinyanyikan pada saat menjemput raja yang baru kembali dari perjalanan.


Tangkil, lagu dalam rangkaian lagu-lagu aimbu yang mengandung kiasan atau teka-teki.


Pantung, dilagukan sambil memetik gambus. Pantung termasuk lagu yang berasal dari daerah Melayu yang telah merakyat sehingga tidak terasa bahwa lagu tersebut berasal dari luar daerah. Dilagukan pada acara-acara gembira, biasanya dihadiri muda-mudi sampai semalam suntuk. Banyak mengandung kias bahkan yang lucu sehingga sangat menarik. Bagian akhir pantun yang disebut hayun, misalnya, Laka ule im Bolai (lihatlah di Kera), Moka’an kon toigu (sedang makan jagung), Laka ule im Bobai (lihatlah wanita), Mo ibog ko inimu (suka kepadamu)

Kamis, 01 November 2012

Pengertian Totabuan

Awal abad 20 Bolaang Mongondow, terdiri dari distrik Mongondow (Passi dan Lolayan), Onder distrik Kotabunan, Bolaang dan Dumoga. Pembagian ini dilakukan sejak pemerintah kolonial Belanda menempatkan perwakilannya (Controleur) di daerah ini.

Pada masa itu, masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman [terutama dataran tinggi di distrik Mongondow (Passi dan Lolayan)] selalu membutuhkan garam, ikan dan hasil hutan (damar) untuk kebutuhan hidupnya. Untuk memenuhi kebutuhan ini biasanya kaum lelakinya meninggalkan desa masuk ke hutan untuk mencari damar, atau menuju daerah pesisir pantai untuk membuat garam (modapug) dan menangkap ikan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, biasanya mereka tinggal agak lama di wilayah pesisir. Selain membuat garam dan menangkap ikan, mereka juga membuat kebun dan menanaminya dengan padi, jagung dan kelapa (tanaman ini sudah dikenal sejak zaman pemerintahan Tadohe yang diperkenalkan oleh bangsa Spanyol sekitar abad ke 17). Tanah yang di tempati inilah yang disebut Totabuan. Bila mereka telah merasa nyaman tinggal di wilayah pesisir ini, biasanya anggota keluarganya akan diboyong ikut bersama menetap di Totabuan. Semakin lama, semakin banyak kepala keluarga yang membawa anggota keluarganya ke tempat baru tersebut, akhirnya mereka mulai membentuk pedukuan baru. Tetapi pedukuan yang baru ini, tetap diawasi oleh pemerintah desa asal mereka, terutama mereka yang telah pindah secara permanen. Pedukuan yang baru ini, tidak membuat Sigi 1), hal ini menunjukkan bahwa mereka masih terikat secara adat dengan desa asal mereka di pedalaman.

Desa-desa yang memiliki Totabuan di daerah pesisir, antara lain :

No. Nama desa asal (Totabuan di)

1. Poyowa Besar (Nuangan)
2. Kobo Kecil (Nuangan)
3. Kobo Besar (Molobog)
4. Kopandakan (Buyat)
5. Otam (Nonapan)
6. Moyag (Motongkad)
7. Pobundayan (Matandoi)
8. Molinow (Tolog dan Kotabunan)
9. Passi (Poigar)
10. Biga (Tombolikat)
11. Motoboi besar (Alot, Oyuod, Matabulu)
12. Poyowa Kecil (Pinolosian)
13. Mongondow (Ayong, Sampaka, Babo)

1) Sigi (podugu), adalah semacam kuil tempat penyembahan pada Ompu Duata (Yang Maha Kuasa) dimana didalamnya tersimpan benda antik (mis:piring tua) yang berasal dari leluhur. Sigi merupakan simbol persatuan desa. Setiap desa ditandai dengan adanya sebuah Sigi. Pada waktu upacara monibi (upacara pengobatan desa, penyembahan kepada roh leluhur atau pengorbanan), seluruh anggota masyarakat desa turut serta. Mereka menyembelih babi, kambing betina dan ayam sebagai bentuk persembahannya dimana darahnya dipercikkan pada tangga sigi. Sigi juga berfungsi sebagai tempat penghapusan dosa bagi para pelanggar adat untuk menghilangkan aibnya.

Mengenal Sayur Daun Gedi(YONDOK)

Daun Gedi (Sayor Yondok) memiliki nama latin Hibiscus Manihot L. di negara lain juga daun gedi disebut (Philipina: Lagikuway, Thailand: Po fai, Inggris: Edible hibiscus).
Daun Gedi merupakan sayur khas di Sulawesi Utara khususnya Bolaang Mongondow karena orang Mongondow pasti tidak akan pernah lupa pada rasa nikmat masakan sayur gedi yang dikenal dengan Sayor Yondok. Dalam pengolahan sayur ini banyak resep tergantung selera masing-masing peminat, boleh memasak dengan santan atau cuma di rebus biasa dengan tambahan bumbu khas lainnya. Namun sayur gedi ini identik dengan dimasak santan ditambah rebung (oyobung), ubi talas (bete)  dan bumbu lain, kemudian ditambahkan lagi dengan ikan asin (ikang garam) sebagai teman makan sayur yondok.
Bagi orang asli Manado atau Bolaang Mongondow makan Bubur Manado (tinutuan) tidak lengkap jika tidak ditambahkan daun gedi ini sebagai campuran. Daun gedi mempunyai fungsi sebagai penambah rasa gurih serta mengentalkan. Selain lezat, daun gedi juga kaya akan vitamin A, zat besi dan serat yang baik untuk saluran pencernaan. Kolagen terkandung di dalam daun ini juga bermanfaat antioksidan dan menjaga kesehatan kulit. Mungkin karena banyak mengandung serat sehingga menyerap kolesterol dan lemak. Sehingga banyak orang berpendapat bahwa sayur ini dapat membuat orang langsing dan membantu menurunkan kadar kolesterol dan hipertensi. Namun belum ada penelitian khusus tentang hal ini.  Karena daunnya banyak mengandung banyak zat kolagen yang bersifat antioksidan, maka berguna untuk merawat kesehatan kulit dan melancarkan peredaran darah. Konon kabarnya, pada suatu masa, Pak Harto (Almarhum) senang merawat sendiri tanaman ini di rumah kediamannya di Cendana, karena beliau suka makan rebusan daun itu guna pemulihan dan perawatan kesehatannya di masa tua.


Saat ini daun gedi susah dijumpai, padahal tanaman ini sangat mudah tumbuh dan diperbanyak. Cukup stek batang dan tanam di media tanah yang gembur pasti akan tumbuh subur. Tinggi tanaman bisa mencapai dua meter dan jika tanahnya cocok akan sangat rimbun dengan daun. Daunnya hijau dan sepintas mirip daun singkong atau mariyuana, karena daunnya berbentuk 5 jari mirip daun singkong atau mariyuana.
Orang Mongondow, terutama yang ada diperantauan sering menanam daun gedi ini di pekarangan rumah atau pot agar sewaktu-waktu bila ingin memasak sudah tersedia. Memang rasa daun gedi sangat kental di lidah orang Mongondow sehingga kemana saja selalu terbayang...sayur yondok. Bukan cuma orang Mongondow saja yang terkenang dengan daun gedi ini, menurut cerita kalau ada orang luar yang pernah makan sayur daun gedi ini pasti tidak akan pernah lupa rasanya dan akan selalu mencari dimana tempat yang ada daun gedi ini. Percaya atau tidak? Wallahualam bisawab....